Yaman: Gubernur Hadramaut dan Makna Tradisi Sarung


Dalam sebuah pertemuan masyarakat baru-baru ini, Gubernur Hadramaut terlihat mengenakan sarung atau futah khas Yaman. Penampilan ini bukan sekadar pilihan pakaian biasa, melainkan simbol budaya dan identitas yang sangat kuat di wilayah tersebut.

Tradisi memakai sarung di Hadramaut merupakan warisan budaya yang telah ada berabad-abad, terkait erat dengan sejarah panjang perdagangan dan interaksi masyarakat Hadramaut dengan Nusantara dan India Selatan.

Sarung di Yaman dikenal dengan beberapa istilah. Futah adalah sebutan paling umum, sementara Ma’awis adalah jenis yang lebih tebal dengan motif kotak atau garis. Ada juga sebutan Izaar atau Wazaar yang digunakan di beberapa negara semenanjung Arab.

Asal-usul sarung dapat ditelusuri dari suku Badui di Hadramaut, yang menggunakannya sebagai pakaian sehari-hari maupun untuk acara-acara resmi. Pakaian ini dirancang agar nyaman dipakai dalam cuaca panas dan gurun.

Penampilan gubernur dengan sarung mengingatkan pada hubungan historis Hadramaut dengan Nusantara. Para pedagang Hadrami sejak abad ke-13 hingga ke-14 membawa budaya sarung ke Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Jalur perdagangan ini juga melewati India Selatan, khususnya Malabar dan Gujarat. Para pedagang Hadramaut sering menetap di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara. Hal ini menjelaskan kesamaan motif dan fungsi sarung di wilayah-wilayah tersebut.

Sarung bukan hanya pakaian harian. Di Yaman, banyak pekerja, ulama, dan bahkan petugas keamanan menggunakan futah sebagai pakaian dinas. Fungsi ini menegaskan bahwa sarung adalah simbol identitas sekaligus praktis.

Di Indonesia, sarung hadir bersamaan dengan dakwah Islam. Sarung menjadi ciri khas kaum santri, digunakan dalam upacara adat, pernikahan, dan acara keagamaan, sehingga menunjukkan nilai kesopanan dan kehormatan.

Motif kotak-kotak atau garis yang dipakai gubernur terlihat sangat mirip dengan kain pelikat di Malaysia maupun sarung pasar tradisional di pesisir India dan Indonesia. Semua berasal dari akar tekstil Islam yang sama.

Tokoh yang mengenakan futah dan sorban merah-putih di bahu pada foto tersebut adalah salah satu figur terkemuka Hadramaut. Penampilan ini sering muncul dalam konteks pertemuan tokoh lokal atau ulama setempat.

Selain futah, masyarakat Hadramaut juga menggemari sarung Goyor asal Indonesia. Sarung ini terkenal di pasar internasional, termasuk di Yaman dan Arab Saudi.

Sarung Goyor memiliki karakter unik yang disebut Toldem, yaitu sifat kain yang lembut, lentur, dan nyaman dipakai. Kain terasa sejuk saat panas dan hangat saat dingin, sangat cocok untuk iklim tropis maupun gurun.

Bahan Goyor adalah benang rayon viskosa berkualitas tinggi dari serat selulosa tumbuhan. Tenunan ATBM tradisional membuat sarung ini lebih halus, bernilai tinggi, dan memerlukan waktu berminggu-minggu untuk pembuatan satu helai.

Salah satu ciri khas Goyor adalah jahitan di tengah kain, akibat lebar alat tenun tradisional yang terbatas. Hal ini menjadi tanda autentikitas sarung Goyor asli.

Di Hadramaut, sarung Goyor dianggap sebagai simbol status sosial. Harganya lebih tinggi dibanding sarung pabrikan biasa, sehingga pemakainya sering dihormati sebagai figur berkelas atau berpengaruh.

Motif Goyor umumnya berbentuk tenun ikat. Benang dicelup dan diikat sebelum ditenun sehingga menghasilkan pola geometris atau floral yang simetris di kedua sisi kain.

Gubernur Hadramaut memakai sarung dalam pertemuan publik tidak hanya menunjukkan identitas lokal, tetapi juga menghormati tradisi panjang masyarakat yang menghargai kesederhanaan dan kesopanan berpakaian.

Sarung menjadi penghubung budaya, mengingatkan bahwa Hadramaut, Nusantara, dan India Selatan pernah terjalin erat melalui perdagangan, migrasi, dan penyebaran Islam.

Penampilan tokoh publik dengan sarung juga menegaskan nilai kontinuitas budaya. Meskipun dunia modern memasuki Yaman, simbol tradisi seperti futah dan sarung Goyor tetap dihormati.

Secara keseluruhan, sarung yang dipakai gubernur Hadramaut bukan sekadar kain, melainkan lambang sejarah, identitas, dan jaringan budaya Samudra Hindia yang masih hidup hingga kini.

Share this:

 
Copyright © Berita Borbor. Designed by OddThemes