Apa Makna Prasasti Dolok Tolong?

Bagi masyarakat Balige, Dolok Tolong tentu sudah tidak asing lagi. Dolok Tolong adalah bukit tertinggi yang ada di Kecamatan Tampahan, Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Puncaknya berada di ketinggian 1.200 mpdl. Dolok berada 5 km dari Balige, ibukota Tobasa .

Jika kita mendaki Dolok Tolong, akan terhampar view Danau Toba yang begitu menawan. Gugusan Bukit Barisan, Pulau Samosir dengan hamparan hijau persawahan yang ada di sekilingnya membentuk landscap yang tak ada duanya.

Tetapi tidak hanya keindahan itu yang membuat penasaran pengunjung datang ke sana. Namun juga karena sejarah yang melatarbelakanginya. Salah satunya prasasti yang berkaitan dengan ekspansi pasukan Majapahit di Tanah Batak sekitar akhir abad ke-14 M. Akibat persinggungan dengan Majapahit itulah terbentuk peradaban Hindu dan Buddha di Tanah Batak. Kisah sejarah itulah yang melatarbelakangi munculnya istilah Prasasti Dolok Tolong.

Sampai kini, kedua peradaban itu, khususnya Hindu masih melekat dalam budaya Batak Toba. Sejumlah referensi menyebut-nyebut persinggungan peradaban itu. Antara lain dapat dilihat dari beberapa manuskrip kuno, seperti, Sejarah Raja-raja Barus, Hikayat Raja Tuktung dan Hikayat Hamparan Perak.

Dari manuskrip itu diceritakan bagaimana pasukan marinir Majapahit mengalami kekalahan pahit di Selat Malaka. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri mencapai daratan dan melalui Sungai Barumun menyusuri daratan. Mereka masuk ke pedalaman Padang Lawas. Tetapi mereka dihadang oleh penduduk lokal, mereka meneruskan pelarian ke bukit-bukit dan pegunungan hingga sampai ke Dolok Tolong.

Di sana mereka meminta suaka politik kepada seorang raja lokal yang bernama Tuan Sorbadibanua. Raja Isumbaon sendiri adalah anak dari Si Raja Batak yang diyakini hidup pada abad ke 13 M. Hal ini diungkapkan seorang pemerhati sejarah dan budaya asal Balige, Sahala Simanjuntak kepada medanbisnisdaily.com, Jumat (22/9/2017).

Dari trah Tuan Sorbadibanua inilah muncul dinasti Sisingamangaraja yang berkuasa di Bakkara. Namun anak Sisingamangaraja I yang bernama Si Raja Hita, pergi dari Bakkara dan mendirikan Kerajaan Balige pada abad ke 15. Konon, saudaranya Guru Patimpus, juga bermigrasi ke pesisir Timur Sumatera. Dia dikenal sebagai pendiri Kota Medan di tahun 1590.

Dijelaskannya, pasukan Mojopahit (Majapahit) yang menghindar ke Sungai Barumun dipimpin seorang pangeran beserta seorang srikandinya yang kemudian sering disebut Si Boru Basopaet (Putri Mojopahit). Siboru Basopaet kemudian dikawinkan kepada Tuan Sorbadibanua.

Puteri Mojopahit menjadi istri kedua dari Tuan Sorbadibanua. Istri pertama adalah boru Pasaribu memilih tempat tinggal di lereng Dolok Tolong di sebelah barat namanya Galagala. Di situlah Boru Sipasopaet bertempat tinggal beserta 3 orang anaknya, Sobu, Sumba, Naipospos, yang kemudian karena konflik dengan saudaranya yang tertua yaitu Sibagot Ni Pohan, mereka meninggalkan huta Galagala pada malam hari.

Mereka turun ke Pangkodian dari sana mereka naik solu (sampan), satu orang ke arah timur ke Sigaol dan 2 orang lagi ke arah utara ke daerah Bakkara dan Tipang, kemudian dari 2 tempat itu turunannya menyebar ke daerah Humbang dan ke Silindung.

Pendapat itu juga dibenarkan budayawan Batak Toba dari Komunitas Parmalim, Monang Naipospos. Disebutkannya, daerah Dolok Tolong yang juga disebut juga Tombak Longo-longo Sisumbaon. Artinya rimba yang menjadi tempat persembahan. Dapat diyakini pada zaman Mojopahit, Dolok Tolong merupakan pusat religius kaum animisme dan paganisme Batak.

Situs Budaya-Sejarah

Ada sebuah situs budaya-sejarah penting di Dolok Tolong. Yakin sebuah mata air yang disebut “Mual Palakka Gading” Mata air ini adalah peninggalan Sisingamangaraja XII. Ditengarai mata air ini dibuatnya sebagai penghormatan atas nenek moyangnya di dolok ini. Tepat di hadapan Dolok Tolong sebelah utara di tepi Danau Toba terdapat satu lapangan hijau dikenal sebagai Tanah Lapang Sisingamangaraja XII.

Ditambahkan Sahala, sesuatu peristiwa sejarah pasca kemerdekaan Indonesia, juga pernah terjadi di sana. Pada tahun 1948, Presiden Sukarno berpidato di tempat itu.

Dalam pidatonya Presiden pertama RI itu berkata,“ Di tepi Danau Toba yang keramat ini, di kampung Raja Sisingamangaraja yang sakti ini, saya umumkan detik ini bahwa walaupun Belanda membuat tembok raksasa di seberang sana untuk memecah belah persatuan bangsa Indonasia, percayalah saudara-saudara demikian pula pihak Belanda di sana, setelah matahari terbit pada bulan Januari 1950, di seluruh Indonesia akan berkibarlah Bendera Indonesia“.

Sahala menganjurkan agar penelitian terhadap prasasti Dolok Tolong ini perlu terus dikembangkan. Menurutnya, penelitian-penelitian yang ia dan Monang Naipospos lakukan hanyalah awal. Sehingga harus diperdalam secara lebih komprehensif. (sumber)

Share this:

 
Copyright © Berita Borbor. Designed by OddThemes