Situasi keamanan di Hasakah, Suriah timur, kembali menegaskan kompleksitas konflik yang tidak hanya bersifat domestik, tetapi juga sarat dengan irisan kepentingan asing. Wilayah ini menjadi titik temu berbagai agenda regional dan internasional yang saling bertabrakan, sekaligus saling menahan eskalasi konflik terbuka.
Ketika pasukan Kementerian Pertahanan Suriah mulai mengambil alih sebagian wilayah Suriah timur, dinamika di Hasakah berubah cepat. Keberhasilan awal Damaskus memunculkan kekhawatiran akan pecahnya konflik skala besar dengan kelompok bersenjata Kurdi yang berafiliasi dengan PKK.
Dalam konteks ini, Turkiye mengambil posisi yang relatif pragmatis. Ankara justru mendukung tercapainya perjanjian damai antara Damaskus dan PKK, meskipun selama ini Turkiye dikenal sebagai pihak yang paling keras menentang kelompok tersebut.
Alasan utama sikap Turkiye bukan semata politik, melainkan kekhawatiran kemanusiaan dan keamanan domestik. Jika perang total pecah di Hasakah, gelombang pengungsi Kurdi diperkirakan akan bergerak ke utara dan menambah beban Turkiye yang sudah menampung jutaan pengungsi Suriah.
Bagi Amerika Serikat, posisi PKK dan struktur yang berafiliasi dengannya memiliki nilai strategis yang tinggi. Kelompok ini dipandang sebagai instrumen penting dalam menjaga pengaruh Washington di Suriah timur dan menahan dominasi penuh Damaskus-Ankata serta sekutunya.
Kehadiran PKK juga berkaitan erat dengan kepentingan geopolitik AS yang lebih luas, termasuk pengawasan jalur energi, pembatasan pengaruh Iran, dan kontrol terhadap wilayah yang kaya sumber daya di Suriah timur.
Sementara itu, dari sudut pandang Kurdistan Irak, hubungan dengan PKK tidak hanya bersifat ideologis atau etnis. PKK dipandang sebagai mitra penting dalam jaringan penyelundupan minyak ilegal dari Suriah ke wilayah Kurdistan Irak.
Aliran minyak ini menjadi salah satu sumber pendapatan bayangan yang menguntungkan berbagai aktor lokal. Stabilitas PKK di Hasakah dinilai penting untuk menjaga kelancaran jalur-jalur ekonomi ilegal tersebut.
Keluarga Barzani, sebagai kekuatan politik utama di Kurdistan Irak, juga memiliki pertimbangan tersendiri. Mereka tidak menginginkan konflik antara Damaskus dan PKK berubah menjadi perang besar yang berlabel Kurdi versus Arab.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Wilayah Kurdistan Irak sendiri secara demografis tidak sepenuhnya homogen Kurdi, dengan sebagian besar wilayah dihuni oleh komunitas Arab dari suku-suku besar seperti Dulaim, Ukaidat, dan lainnya.
Perang Kurdi-Arab di Suriah berpotensi merembet ke Irak dan memicu ketegangan horizontal di wilayah Kurdistan Irak. Skenario ini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kekuasaan Barzani.
Di sisi lain, Prancis memiliki kepentingan geopolitik tersendiri di Suriah timur. Paris dinilai ingin PKK tetap eksis sebagai salah satu alat pengaruh dalam peta politik regional pasca-perang Suriah.
Keterlibatan Prancis tidak selalu tampak di permukaan, namun dukungan politik dan intelijen menjadi instrumen utama untuk menjaga keseimbangan kekuatan di Hasakah.
Dalam fase awal operasi, pasukan pemerintah Suriah sempat mencatat keunggulan di lapangan. Pergerakan mereka relatif cepat dan terkoordinasi, menekan posisi PKK di beberapa titik strategis.
Namun situasi berubah di menit-menit terakhir. Dukungan intelijen dari Amerika Serikat dan Prancis kepada PKK mulai terasa signifikan, terutama dalam bentuk informasi pergerakan dan pola operasi pasukan Damaskus.
Informasi tersebut membuat PKK mampu mengubah taktik menjadi lebih efektif. Penyergapan terhadap pasukan pemerintah Suriah meningkat, memaksa Damaskus memperlambat laju operasi militernya.
Kondisi ini menciptakan kebuntuan militer yang berbahaya. Tidak ada pihak yang mampu meraih kemenangan cepat, sementara risiko eskalasi regional justru semakin besar.
Di tengah tekanan berbagai kepentingan asing, jalur diplomasi kembali menguat. Semua pihak menyadari bahwa perang terbuka di Hasakah akan memicu efek domino yang sulit dikendalikan.
Akhirnya, kesepakatan damai pun ditandatangani. Perjanjian ini bukan sekadar hasil kompromi lokal, melainkan cerminan dari keseimbangan rapuh antara kepentingan Turkiye, Amerika Serikat, Prancis, Kurdistan Irak, dan Damaskus.
Hasakah kembali menjadi bukti bahwa konflik Suriah tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap pergerakan pasukan, terdapat jalinan kepentingan asing yang saling beririsan dan menentukan arah akhir konflik.

