Technology

Latest Updates

Yaman: Gubernur Hadramaut dan Makna Tradisi Sarung

Januari 09, 2026

Dalam sebuah pertemuan masyarakat baru-baru ini, Gubernur Hadramaut terlihat mengenakan sarung atau futah khas Yaman. Penampilan ini bukan sekadar pilihan pakaian biasa, melainkan simbol budaya dan identitas yang sangat kuat di wilayah tersebut.

Tradisi memakai sarung di Hadramaut merupakan warisan budaya yang telah ada berabad-abad, terkait erat dengan sejarah panjang perdagangan dan interaksi masyarakat Hadramaut dengan Nusantara dan India Selatan.

Sarung di Yaman dikenal dengan beberapa istilah. Futah adalah sebutan paling umum, sementara Ma’awis adalah jenis yang lebih tebal dengan motif kotak atau garis. Ada juga sebutan Izaar atau Wazaar yang digunakan di beberapa negara semenanjung Arab.

Asal-usul sarung dapat ditelusuri dari suku Badui di Hadramaut, yang menggunakannya sebagai pakaian sehari-hari maupun untuk acara-acara resmi. Pakaian ini dirancang agar nyaman dipakai dalam cuaca panas dan gurun.

Penampilan gubernur dengan sarung mengingatkan pada hubungan historis Hadramaut dengan Nusantara. Para pedagang Hadrami sejak abad ke-13 hingga ke-14 membawa budaya sarung ke Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Jalur perdagangan ini juga melewati India Selatan, khususnya Malabar dan Gujarat. Para pedagang Hadramaut sering menetap di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara. Hal ini menjelaskan kesamaan motif dan fungsi sarung di wilayah-wilayah tersebut.

Sarung bukan hanya pakaian harian. Di Yaman, banyak pekerja, ulama, dan bahkan petugas keamanan menggunakan futah sebagai pakaian dinas. Fungsi ini menegaskan bahwa sarung adalah simbol identitas sekaligus praktis.

Di Indonesia, sarung hadir bersamaan dengan dakwah Islam. Sarung menjadi ciri khas kaum santri, digunakan dalam upacara adat, pernikahan, dan acara keagamaan, sehingga menunjukkan nilai kesopanan dan kehormatan.

Motif kotak-kotak atau garis yang dipakai gubernur terlihat sangat mirip dengan kain pelikat di Malaysia maupun sarung pasar tradisional di pesisir India dan Indonesia. Semua berasal dari akar tekstil Islam yang sama.

Tokoh yang mengenakan futah dan sorban merah-putih di bahu pada foto tersebut adalah salah satu figur terkemuka Hadramaut. Penampilan ini sering muncul dalam konteks pertemuan tokoh lokal atau ulama setempat.

Selain futah, masyarakat Hadramaut juga menggemari sarung Goyor asal Indonesia. Sarung ini terkenal di pasar internasional, termasuk di Yaman dan Arab Saudi.

Sarung Goyor memiliki karakter unik yang disebut Toldem, yaitu sifat kain yang lembut, lentur, dan nyaman dipakai. Kain terasa sejuk saat panas dan hangat saat dingin, sangat cocok untuk iklim tropis maupun gurun.

Bahan Goyor adalah benang rayon viskosa berkualitas tinggi dari serat selulosa tumbuhan. Tenunan ATBM tradisional membuat sarung ini lebih halus, bernilai tinggi, dan memerlukan waktu berminggu-minggu untuk pembuatan satu helai.

Salah satu ciri khas Goyor adalah jahitan di tengah kain, akibat lebar alat tenun tradisional yang terbatas. Hal ini menjadi tanda autentikitas sarung Goyor asli.

Di Hadramaut, sarung Goyor dianggap sebagai simbol status sosial. Harganya lebih tinggi dibanding sarung pabrikan biasa, sehingga pemakainya sering dihormati sebagai figur berkelas atau berpengaruh.

Motif Goyor umumnya berbentuk tenun ikat. Benang dicelup dan diikat sebelum ditenun sehingga menghasilkan pola geometris atau floral yang simetris di kedua sisi kain.

Gubernur Hadramaut memakai sarung dalam pertemuan publik tidak hanya menunjukkan identitas lokal, tetapi juga menghormati tradisi panjang masyarakat yang menghargai kesederhanaan dan kesopanan berpakaian.

Sarung menjadi penghubung budaya, mengingatkan bahwa Hadramaut, Nusantara, dan India Selatan pernah terjalin erat melalui perdagangan, migrasi, dan penyebaran Islam.

Penampilan tokoh publik dengan sarung juga menegaskan nilai kontinuitas budaya. Meskipun dunia modern memasuki Yaman, simbol tradisi seperti futah dan sarung Goyor tetap dihormati.

Secara keseluruhan, sarung yang dipakai gubernur Hadramaut bukan sekadar kain, melainkan lambang sejarah, identitas, dan jaringan budaya Samudra Hindia yang masih hidup hingga kini.

Dialog Selatan-Selatan Yaman: Peluang Faksi Non-STC di Aden

Januari 04, 2026
Pertemuan atau dialog Selatan-Selatan yang digagas di Riyadh menjadi sorotan penting dalam dinamika politik Yaman Selatan. Inisiatif ini dipandang sebagai salah satu upaya untuk membuka ruang bagi semua faksi, termasuk yang selama ini berada di luar pengaruh STC, untuk berpartisipasi dalam pemerintahan lokal di Aden.

Diumumkan melalui pernyataan resmi pada 3 Januari 2026, Majelis Perlawanan Rakyat di Wilayah Aden menyambut baik undangan Arab Saudi untuk mengikuti dialog selatan yang lebih luas. Majelis ini menegaskan kesiapan penuh mereka untuk berpartisipasi dalam forum penting ini.

Dialog ini digambarkan sebagai konferensi yang bertujuan menemukan solusi komprehensif untuk “masalah Selatan” dengan pendekatan adil, tanpa eksklusi atau dominasi satu pihak, sambil menjamin keterlibatan seluruh kekuatan dan komponen masyarakat yang relevan.

Majelis Perlawanan Rakyat menyatakan dukungan mereka terhadap semua keputusan yang diambil oleh Ketua Dewan Kepresidenan Rashad Al Alimi terkait Hadramaut dan Al-Mahrah, namun tetap menekankan perlunya langkah-langkah serius untuk menyelesaikan persoalan politik Selatan secara menyeluruh.

Pernyataan ini menyoroti pentingnya dialog sebagai sarana utama membangun kesepakatan dan meminimalkan ketegangan antara faksi-faksi Selatan, termasuk antara kelompok loyal pemerintah dan STC.

Dialog Selatan-Selatan Riyadh juga menandai pengakuan regional, khususnya dari Arab Saudi, terhadap kompleksitas politik di Yaman Selatan. Saudi berperan sebagai mediator netral yang mendorong partisipasi luas dan inklusif.

Bagi faksi non-STC, inisiatif ini membuka peluang nyata untuk memperoleh posisi dalam struktur pemerintahan lokal di Aden, yang selama ini sebagian besar dikuasai oleh STC.

Majelis Perlawanan Rakyat menekankan bahwa setiap solusi yang adil dan berkelanjutan harus dibangun atas dasar konsensus, kemitraan, dan penghormatan terhadap pluralitas politik dan sosial. Ini menjadi kerangka untuk memperkuat legitimasi institusi negara di wilayah Selatan.

Pernyataan Majelis juga menegaskan bahwa dialog harus menempatkan aspirasi sah rakyat Selatan sebagai pusat perundingan, sekaligus mengarahkan proses politik ke arah yang memperkuat stabilitas nasional.

Arab Saudi disebut memiliki peran kunci dalam memfasilitasi dialog. Dukungan mereka diharapkan mampu mendorong semua pihak untuk datang ke meja perundingan dengan itikad baik.

Forum ini diharapkan menjadi momentum untuk menjembatani perbedaan antara faksi loyal pemerintah, faksi pro-STC, dan kelompok lokal lain yang selama ini kurang terwakili dalam pemerintahan Aden.

Dialog ini bukan sekadar simbolik. Ia memberikan legitimasi politik bagi faksi-faksi non-STC untuk menegaskan kehadiran mereka dalam pengambilan keputusan lokal.

Dengan adanya mekanisme dialog yang inklusif, peluang faksi non-STC untuk memperoleh jabatan di jajaran gubernur Aden meningkat, meskipun masih harus melalui proses negosiasi yang rumit.

Majelis Perlawanan Rakyat menyebut inisiatif Saudi sebagai langkah positif dan penting yang mencerminkan pemahaman mendalam tentang perlunya keterlibatan semua komponen masyarakat dalam merumuskan masa depan Selatan.

Pendekatan dialog ini diharapkan mampu mengurangi dominasi satu pihak dan meminimalkan risiko konflik, sekaligus membuka ruang partisipasi politik yang lebih adil.

Publik Yaman Selatan menaruh harapan besar pada pertemuan ini. Mereka berharap dialog Riyadh dapat menghasilkan solusi nyata, bukan sekadar retorika politik, untuk mengakhiri ketegangan di Aden.

Beberapa pengamat politik menilai bahwa keberhasilan dialog ini akan menjadi indikator penting bagi implementasi kesepakatan Riyadh secara lebih luas, khususnya mengenai inklusivitas dalam pemerintahan lokal.

Majelis Perlawanan Rakyat menegaskan penghargaan tinggi kepada Arab Saudi atas upayanya dalam merajut persatuan, mendukung proses perdamaian, dan menjaga keseimbangan politik di Yaman Selatan.

Jika proses ini berjalan efektif, akan tercipta skema baru di Aden di mana faksi non-STC memiliki peran yang lebih nyata, memperkuat pluralitas dan legitimasi pemerintahan lokal.

Akhirnya, dialog Selatan-Selatan Riyadh membuka babak baru bagi politik Aden. Ini bukan hanya tentang pembagian jabatan, tetapi tentang membangun konsensus, stabilitas, dan masa depan yang inklusif bagi seluruh rakyat Selatan.

Pemda Taiz Gelar Forum Ekonomi Bahas Investasi di Yaman

Januari 02, 2026
Kota Taiz kini terbagi dua secara nyata. Sebagian wilayah berada di bawah kendali Pemerintah Yaman yang berafiliasi dengan PLC, sementara bagian lainnya masih dikuasai oleh Houthi.

Kondisi ini mencerminkan fragmentasi yang terjadi di banyak wilayah strategis Yaman, termasuk Marib, Al Jauf, dan Hudeidah, di mana kekuasaan terpecah antara pemerintah resmi dan faksi bersenjata.

Dalam kondisi seperti ini, peran pemerintah daerah di Taiz menjadi sangat krusial. Kehadiran pemerintah pusat yang lemah memaksa otoritas lokal untuk mengambil inisiatif dalam pembangunan dan pelayanan publik.

Senin lalu, Taiz secara resmi mengumumkan pembentukan Dewan Ekonomi Pembangunan Lokal. Acara ini dipimpin oleh pengusaha lokal terkemuka, Shouqi Ahmed Hael Said, dengan dukungan penuh dari Program Pembangunan PBB.

Gubernur Taiz, Nabil Shamsan, membuka acara tersebut dengan mengundang para pemangku kepentingan dari sektor publik, swasta, dan organisasi masyarakat sipil. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan kesadaran kolektif akan pentingnya pembangunan lokal.

Dewan yang beranggotakan 16 orang ini bertujuan menguatkan kerja sama antara sektor publik dan swasta. Dewan juga berfokus pada koordinasi investasi, peningkatan iklim bisnis, dan penguatan ekonomi lokal di tengah krisis nasional.

Acara pembukaan mencakup penyampaian visi dan misi Dewan, serta kerangka strategi dan rencana operasional untuk tahun 2026. Rencana ini menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka menengah Taiz 2024–2026.

Pemda Taiz menegaskan bahwa inisiatif ini bukan hanya simbolik. Dewan akan menjadi instrumen nyata untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan memastikan layanan publik tetap berjalan meski negara terpecah.

Fragmentasi wilayah juga menimbulkan tantangan logistik. Arus barang dan distribusi kebutuhan pokok di Taiz harus diatur dengan cermat agar tidak terhambat oleh garis-garis kontrol yang terpecah.

Namun, kondisi ini membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk memainkan peran lebih aktif. Otoritas lokal bisa membentuk kebijakan yang menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, tanpa menunggu arahan pusat yang sering terhambat konflik.

Investasi di sektor swasta menjadi fokus utama Dewan Ekonomi Pembangunan Lokal. Para pengusaha lokal didorong untuk mengembangkan proyek-proyek yang memberi dampak sosial dan ekonomi langsung pada komunitas.

Selain itu, Dewan akan memonitor sektor keuangan dan perbankan lokal agar aliran modal tetap stabil di wilayah yang terfragmentasi. Stabilitas ekonomi lokal dianggap penting untuk menjaga ketahanan masyarakat.

Sektor pendidikan dan kesehatan juga menjadi perhatian Dewan. Program pembangunan diarahkan untuk memastikan layanan dasar tetap tersedia bagi warga Taiz di kedua wilayah pengendalian yang berbeda.

Kehadiran masyarakat sipil dan organisasi lokal menjadi kunci sukses Dewan. Partisipasi aktif mereka dapat mengawasi dan memastikan bahwa inisiatif pembangunan benar-benar memberi manfaat bagi rakyat.

Beberapa pengamat menilai langkah Taiz ini sebagai model untuk daerah lain yang terpecah di Yaman, seperti Marib dan Hudeidah. Pemerintah lokal bisa menjadi motor pemulihan ekonomi tanpa menunggu stabilitas nasional.

Namun, tantangan tetap ada. Keamanan di wilayah yang masih dikuasai Houthi atau kelompok bersenjata lain menjadi hambatan signifikan bagi investasi dan kegiatan ekonomi.

Meski begitu, Dewan Ekonomi Pembangunan Lokal menunjukkan bahwa pemerintah daerah mampu mengambil alih sebagian fungsi negara, terutama dalam manajemen ekonomi dan pembangunan infrastruktur.

Integrasi sektor publik dan swasta, menurut pemda, menjadi strategi untuk menciptakan lingkungan bisnis yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal.

Pemerintah daerah juga mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana dan proyek pembangunan. Hal ini penting agar rakyat tetap percaya pada institusi lokal meski negara terbagi.

Langkah-langkah ini dinilai akan memperkuat posisi Taiz secara ekonomi dan politik. Keberhasilan Dewan Ekonomi Pembangunan Lokal dapat menjadi contoh bagaimana daerah dapat mandiri dalam situasi krisis.

Akhirnya, Taiz membuktikan bahwa dalam situasi fragmentasi, pemda memiliki kapasitas untuk mengambil peran strategis. Meskipun konflik tetap membayangi, inisiatif lokal ini menegaskan bahwa pembangunan tetap mungkin dijalankan.

STC Yaman di Persimpangan: Tekanan atau Momentum?

Desember 30, 2025
Keputusan Rashad al-Alimi untuk mengusir Uni Emirat Arab dan menuntut penarikan pasukan yang didukung UEA telah mengubah posisi Dewan Transisi Selatan (STC) dari sekadar aktor regional menjadi pusat gravitasi krisis politik Yaman. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah STC akan bergerak, melainkan bagaimana dan sejauh apa langkah mereka berikutnya.

Dalam kondisi saat ini, tindakan STC yang paling masuk akal adalah menahan eskalasi militer langsung sambil memperkuat posisi politiknya. Pernyataan STC yang “siap berdialog” bukan sinyal kelemahan, melainkan upaya mengunci legitimasi moral di hadapan komunitas internasional dan Arab Saudi, sembari menunggu kesalahan berikutnya dari PLC versi al-Alimi.

Fakta bahwa tiga anggota PLC pro-UEA secara terbuka menentang keputusan al-Alimi, lalu diikuti Tariq Saleh, menciptakan realitas politik baru: PLC terbelah secara nyata. Dengan komposisi 4 banding 4, al-Alimi kehilangan posisi sebagai pemersatu dan berubah menjadi ketua faksi, bukan kepala kolektif.

Bagi STC, perpecahan PLC ini adalah peluang emas. Selama PLC terbelah, tidak ada otoritas tunggal yang dapat secara sah memerintahkan STC mundur dari Hadramaut atau Al-Mahra. Dalam hukum konflik internal, ketiadaan konsensus pusat melemahkan legitimasi perintah itu sendiri.

Jika dialog yang ditawarkan STC gagal, langkah paling mungkin berikutnya bukanlah deklarasi kemerdekaan, melainkan konsolidasi institusional. Ini mencakup penguatan struktur pemerintahan sipil, keamanan, dan fiskal di wilayah yang sudah mereka kuasai, khususnya Aden dan sekitarnya.

Deklarasi kemerdekaan secara terburu-buru justru berisiko merugikan STC. Selama Hadramaut dan Al-Mahra—yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi—masih berada di bawah pengaruh Riyadh, kemerdekaan Yaman Selatan akan lahir dalam kondisi terfragmentasi, tidak utuh, dan sulit dipertahankan.

Jika STC mendeklarasikan kemerdekaan tanpa Hadramaut dan Al-Mahra, negara baru itu akan terlihat timpang: pesisir dan kota besar ada, tetapi wilayah penyangga strategis dan sumber daya utama belum sepenuhnya dikuasai. Ini memberi Saudi kartu veto de facto atas kelangsungan negara tersebut.

Karena itu, opsi yang lebih menguntungkan adalah membentuk pemerintahan paralel terlebih dahulu, bersama pasukan Tariq Saleh dan faksi pro-UEA lain. Pemerintahan paralel memberi STC ruang membangun legitimasi administratif tanpa memicu reaksi keras internasional seperti pengumuman kemerdekaan.

Model ini memungkinkan STC berkata bahwa mereka tidak memisahkan diri, melainkan mengisi kekosongan negara akibat konflik internal PLC. Narasi ini jauh lebih mudah diterima dibandingkan klaim pemisahan diri langsung.

Jika STC merasa terpojok dan memilih langkah ekstrem seperti mengambil alih Bank Sentral Yaman dan fasilitas publik di Aden, maka krisis akan masuk fase baru. PLC versi al-Alimi hampir pasti akan memindahkan pusat operasional ke Marib atau wilayah timur lain yang masih aman.

Pemindahan ini akan sangat mahal. Kerugian ekonomi PLC bisa mencapai ratusan juta dolar dalam bentuk hilangnya kontrol atas penerimaan pelabuhan, pajak, serta sistem pembayaran negara. Aparatur sipil yang bergantung pada Aden juga akan terganggu.

Lebih sensitif lagi adalah deposito Arab Saudi di Bank Sentral Yaman di Aden, yang nilainya diperkirakan berkisar beberapa miliar dolar. Jika bank jatuh ke tangan STC, Saudi menghadapi dilema: menarik dana dan mengakui fragmentasi, atau bertahan dan bernegosiasi dengan realitas baru.

Dalam skenario ini, jika Saudi melihat langkah STC yang egois, Riyadh kemungkinan secara perlahan menarik investasinya di ekonomi wilayah STC.

Secara politis, langkah al-Alimi mengusir UEA memang tampak seperti upaya menegaskan kedaulatan. Namun secara tidak langsung, tindakan ini juga mengakui keberadaan pemerintahan paralel Yaman Selatan, meskipun belum diumumkan secara formal.

Dengan memutus hubungan pertahanan dan menantang sponsor utama STC, al-Alimi pada dasarnya mengakui bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas selatan. Pengakuan ini tidak diucapkan, tetapi terlihat jelas dalam tindakan.

Pertanyaannya kemudian: apakah pidato al-Alimi merupakan pukulan telak bagi STC? Dalam jangka pendek, mungkin iya secara retorika. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, pidato itu justru berpotensi menjadi kemenangan strategis bagi STC.

STC kini bisa mengklaim bahwa mereka diserang secara politik, bukan sebagai pemberontak, tetapi sebagai entitas yang sedang dipaksa keluar dari struktur negara yang sudah tidak netral. Ini memperkuat narasi perjuangan mereka.

Kesimpulannya, langkah paling masuk akal bagi STC adalah menahan deklarasi kemerdekaan, memperdalam pemerintahan de facto, dan membiarkan PLC terkikis dari dalam. Waktu, fragmentasi, dan tekanan ekonomi justru bekerja untuk kepentingan STC.

Ironisnya, dengan niat mempertahankan kedaulatan Yaman, Rashad al-Alimi mungkin justru mempercepat lahirnya realitas dua negara—atau bahkan lebih—di Yaman. Dalam konteks ini, pidatonya bisa tercatat bukan sebagai pukulan bagi STC, tetapi sebagai titik balik kemenangan sunyi mereka. Atau apakah semua percaturan ini sudah dipikirkan matang-matang oleh aktor politik di Yaman?

Rekonstruksi Suriah Dorong Pemulihan Ekonomi

Desember 30, 2025
Suriah, negara yang telah dilanda konflik selama lebih dari satu dekade, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan ekonomi melalui serangkaian proyek rekonstruksi besar-besaran. 

Pada November 2025, pemerintah Suriah mengumumkan investasi senilai puluhan miliar dolar dari berbagai negara mitra, yang diharapkan menjadi katalisator utama dalam memulihkan infrastruktur yang hancur. Di antara proyek utama adalah pengembangan Bandara Internasional Damascus dengan nilai 4 miliar dolar AS, yang didanai oleh Qatar melalui perusahaan UCC dan telah dimulai sejak Agustus lalu.

Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan konektivitas udara, tetapi juga untuk membuka pintu bagi perdagangan internasional yang lebih luas. 

Selain itu, Metro Damascus dengan anggaran 2 miliar dolar AS dari Uni Emirat Arab menjadi proyek transportasi masif yang akan merevolusi mobilitas di ibu kota. Proyek ini diharapkan menyelesaikan masalah kemacetan lalu lintas yang kronis dan mendukung pertumbuhan sektor jasa di Suriah.

Tak ketinggalan, Damascus Towers dengan investasi 2 miliar dolar AS dari Italia melalui UBAKO akan menjadi kompleks real estate modern yang mencakup gedung perkantoran, hunian, dan pusat komersial. Proyek ini diproyeksikan menarik investor asing lebih banyak, sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja baru di sektor konstruksi dan properti. 

Sementara itu, investasi dari Arab Saudi mencapai 6,4 miliar dolar AS, yang difokuskan pada rekonstruksi umum, termasuk revitalisasi industri semen dan infrastruktur dasar.

Menurut laporan World Bank, total biaya rekonstruksi Suriah diperkirakan mencapai 216 miliar dolar AS, meskipun beberapa sumber seperti Menteri Ekonomi Suriah Mohammed Nidal al-Shaar menyebutkan angka hingga 1 triliun dolar AS. Investasi yang telah mengalir sejak awal 2025, termasuk dari negara-negara Teluk seperti Saudi, UEA, dan Qatar, telah mencapai sekitar 28 miliar dolar AS, yang merupakan 13 persen dari kebutuhan total. 

Angka ini menandakan komitmen regional untuk mendukung pemulihan Suriah pasca-penggulingan rezim Assad.

Dampak positif dari proyek-proyek ini terhadap ekonomi Suriah sudah mulai terlihat. IMF melaporkan adanya tanda-tanda pemulihan, dengan proyeksi pertumbuhan GDP sebesar 1 persen pada 2025 setelah kontraksi 1,5 persen tahun sebelumnya. 

Penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu manfaat utama, di mana proyek infrastruktur seperti bandara dan metro diperkirakan menyerap ribuan tenaga kerja lokal, sehingga mengurangi tingkat pengangguran yang sempat mencapai 50 persen.Selain itu, peningkatan aktivitas ekonomi di sektor konstruksi telah mendorong pertumbuhan domestik, dengan peningkatan pendapatan rumah tangga dan pajak bagi pemerintah.

Investasi Saudi, misalnya, tidak hanya membiayai rekonstruksi tetapi juga membantu stabilisasi mata uang lira Suriah yang sempat terpuruk akibat inflasi ratusan persen. Hal ini diharapkan membalikkan penurunan GDP lebih dari 50 persen sejak 2010, dengan kerugian kumulatif mencapai 226 miliar dolar AS.

Diversifikasi ekonomi juga menjadi fokus utama. Proyek-proyek ini menggeser ketergantungan Suriah dari minyak dan pertanian yang rusak akibat kekeringan, menuju sektor infrastruktur, energi, dan pariwisata. 

Kesepakatan dengan UEA untuk pengelolaan pelabuhan dan proyek energi Qatar diharapkan meningkatkan ekspor, mengurangi inflasi, dan membuka peluang investasi lebih lanjut dari mitra internasional.

Namun, di balik optimisme ini, tantangan struktural masih menghantui. Sanksi AS yang masih berlaku, termasuk Caesar Act sejak 2020, menjadi penghalang utama aliran dana lebih besar. Meskipun Uni Eropa telah mencabut sebagian sanksi, pembatasan AS membatasi rekonstruksi, menyebabkan kesepakatan yang kurang transparan dan berisiko korupsi. Analis dari Carnegie Endowment menekankan perlunya rencana rekonstruksi yang komprehensif untuk menghindari ketidaksetaraan.

Skala investasi yang masih terbatas juga menjadi isu krusial. Dari total kebutuhan 216 miliar dolar AS, dana yang terkumpul baru mencapai sebagian kecil, sehingga pemulihan berjalan lambat. Selain itu, masuknya investasi asing berpotensi memicu inflasi sementara melalui kenaikan harga bahan baku, serta menimbulkan utang jangka panjang jika tidak dikelola dengan baik.

Dampak sosial-ekonomi yang tidak merata semakin memperburuk situasi. Proyek-proyek besar seperti di Damascus cenderung terpusat di ibu kota, meninggalkan wilayah pedesaan yang paling terdampak konflik. Hal ini bisa memperlemah jaringan ekonomi nasional, meningkatkan migrasi internal, dan memperburuk kemiskinan ekstrem yang menimpa 90 persen populasi Suriah.Laporan dari UNESCWA menyoroti kontraksi GDP sebesar 64 persen akibat konflik, disertai inflasi tinggi dan pengangguran massal. Meski ada peluang untuk bantuan kemanusiaan yang lebih besar, seperti yang disampaikan dalam briefing PBB pada November 2025, pemulihan ekonomi memerlukan stabilitas politik yang berkelanjutan.

Akademisi dan ekonom di Qatar News Agency menyebutkan bahwa keterlibatan kembali dengan IMF dapat memperkuat stabilitas moneter, mengurangi inflasi, dan meluncurkan proyek rekonstruksi lebih luas. Namun, ini memerlukan reformasi kuat untuk menghindari jebakan utang dan memastikan distribusi manfaat yang adil.

Konferensi di Damascus pada awal November 2025 memperingatkan agar rekonstruksi ekonomi tidak mengorbankan hak asasi manusia. Youssef, seorang pakar, menekankan bahwa proyek ekonomi harus tunduk pada prinsip keuntungan dan kerugian, bukan sekadar isu politik atau demografis.

Satu tahun setelah penggulingan Assad, kesepakatan senilai lebih dari 6 miliar dolar AS telah diumumkan, menandakan reintegrasi ekonomi regional. Namun, tantangan seperti perubahan iklim dan kekeringan terus mengancam sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi Suriah.

Dilaporkan bahwa kompetisi strategis baru muncul dalam rekonstruksi Suriah, dengan estimasi biaya hingga 400 miliar dolar AS. 

Ini bisa melonjak menjadi 900 miliar jika tidak dikelola dengan baik, menurut pernyataan al-Sharaa.

Perusahaan mitra Suriah di Turki juga berpotensi memainkan peran penting dalam pemulihan, seperti yang dibahas dalam laporan IFRI. Kolaborasi ini dapat mendukung rekonstruksi mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan asing.

Saudi Arabia telah mengambil langkah konkret dengan membersihkan utang Suriah senilai 15 juta dolar AS ke World Bank, yang diharapkan membuka dana rekonstruksi lebih besar. Langkah ini menjadi harapan bagi stabilitas dan pemulihan nyata di Suriah.

Analis menyoroti bahwa sanksi AS tetap menjadi hambatan terbesar, meskipun pencabutan parsial sanksi UE. Ini memengaruhi upaya rekonstruksi dan membatasi akses ke pasar ekspor.Secara keseluruhan, proyek rekonstruksi ini memiliki dampak neto positif, dengan potensi pertumbuhan tahunan 1-2 persen melalui penciptaan lapangan kerja dan infrastruktur baru. 

Namun, keberhasilan bergantung pada pencabutan sanksi penuh, transparansi, dan distribusi manfaat yang merata.World Bank merekomendasikan rencana holistik untuk memaksimalkan potensi ini, agar Suriah tidak hanya bangkit secara ekonomi tetapi juga mencapai ketahanan jangka panjang di tengah gejolak regional.


Asal Usul Marga Matondang di Mandailing

September 30, 2025

Sejarah marga-marga di Mandailing selalu menarik untuk ditelusuri karena berkaitan dengan migrasi, percampuran budaya, serta lahirnya tokoh-tokoh penting dalam perjalanan bangsa. Salah satunya adalah marga Matondang yang hingga kini masih bertahan kuat sebagai identitas sosial masyarakat Mandailing.

Sebuah video yang beredar di media sosial mengisahkan asal-usul tiga marga besar, yakni Batubara, Daulay, dan Matondang. Narasi yang dituturkan menyingkap bagaimana ketiga marga ini sesungguhnya bersumber dari leluhur yang sama. Cerita bermula dari kedatangan sekelompok orang dari Batu Bara, dekat Tanjungbalai, yang bermigrasi ke pedalaman Mandailing beberapa abad silam.

Rombongan itu dipimpin oleh dua tokoh besar, Parmato Sophia dan Datuk Piccur Ayo. Keduanya memimpin kelompok menuju Barumun, dan di sanalah mereka membuka perkampungan baru yang dinamakan Binabo, sekitar dua kilometer dari Sibuhuan saat ini. Dari titik inilah garis keturunan marga Batubara, Daulay, dan Matondang berkembang.
Dikisahkan bahwa Parmato Sophia memiliki dua putra yang kelak menjadi cikal bakal marga besar. Putra pertama bernama Silai yang menurunkan marga Daulay, sedangkan putra kedua bernama Sitondang yang menurunkan marga Matondang. Dengan demikian, marga Daulay dan Matondang dapat dikatakan masih seketurunan dengan marga Batubara.

Di sisi lain, Datuk Piccur Ayo yang merupakan saudara Parmato Sophia juga memiliki keturunan. Putranya bernama Sibaru, sementara putrinya yang terkenal akan kecantikannya disebut Boru Matondang. Dari nama inilah, sebutan Matondang semakin melekat dan akhirnya berkembang menjadi nama marga tersendiri.

Setelah Parmato Sophia wafat, makamnya di Thor Parking Kiran dipelihara dan kemudian dipugar oleh keturunannya. Dari makam inilah terjalin ikatan emosional yang kuat antara para keturunan Batubara, Daulay, dan Matondang. Tradisi ziarah serta penghormatan leluhur masih terus dilakukan hingga kini sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah.

Perjalanan keturunan Parmato Sophia tidak berhenti di Binabo. Silai dan Sitondang kemudian pindah ke wilayah Pintupadang. Dari sanalah garis keturunan Daulay dan Matondang berkembang lebih luas, menjadi bagian penting dari masyarakat Mandailing yang tersebar di berbagai desa dan daerah.

Sementara itu, Datuk Piccur Ayo memilih menetap di Pagaran Tonga. Namun, perselisihan internal kemudian membuat sebagian kelompok bermarga Batubara berpencar ke berbagai tempat seperti Desa Bakaran Korsik, Tanobato, Hutan Rimba Ruk, Hutapungkut, hingga Hutanagodang.

Dari persebaran itu, muncul pula banyak tokoh terkemuka. Salah satunya adalah almarhum Adam Malik, putra Hutapungkut Julu, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Ia merupakan bukti nyata bagaimana marga-marga Batubara, Daulay, dan Matondang memberikan kontribusi besar pada sejarah nasional.

Marga Matondang sendiri dikenal dengan identitas yang melekat pada nama Sitondang, putra Parmato Sophia. Dalam perkembangannya, marga ini hidup berdampingan dengan Daulay dan Batubara, karena memang masih satu rumpun. Hubungan kekerabatan di antara ketiganya masih dijaga dengan baik hingga sekarang.

Di kalangan masyarakat Mandailing, marga Matondang dipandang sebagai salah satu marga yang punya kedudukan terhormat. Mereka dikenal memiliki peranan dalam dunia keagamaan, pemerintahan, maupun kebudayaan. Beberapa tokoh ulama dari marga ini bahkan tercatat berpengaruh pada masa awal penyebaran Islam di Mandailing.

Nama Matondang juga muncul dalam berbagai catatan sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun. Kisah Boru Matondang yang disebut cantik rupawan menambah dimensi simbolik terhadap identitas marga ini. Sebutan itu memperkaya citra Matondang sebagai marga yang bukan sekadar garis keturunan, melainkan juga simbol keindahan dan kehormatan.

Asal usul Matondang yang erat kaitannya dengan Batubara dan Daulay menunjukkan bagaimana percampuran tradisi, migrasi, dan kekerabatan membentuk struktur sosial Mandailing. Hal ini juga menggambarkan bagaimana identitas marga di Sumatera Utara tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan sejarah panjang leluhur.

Haji Matondang disebut-sebut sebagai salah satu tokoh dari marga ini yang berperan besar dalam kehidupan keagamaan dan sosial di Singkil, Pakpak Bharat dan Dairi. Kiprahnya menegaskan posisi Matondang sebagai marga yang tak hanya berakar kuat pada sejarah, tetapi juga aktif dalam dinamika masyarakat modern.
--
Menurut Ypes, W. K. H., di tulisannya "Nota omtrent Singkel en de Pak-pak landen" pada buku "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde" ("Catatan mengenai Tanah Singkel dan Pak-pak" pada buku "Jurnal Linguistik, Geografi dan Etnologi Hindia") terbitan tahun 1907 halaman 555-642, marga Pinarik (Penarik) adalah sama dengan marga Cibero (Cibro).

Tulisan ini membahas mengenai daerah-daerah di Singkil dan Pakpak pada saat itu. Singkil dianeksasi oleh Belanda dan dijadikan enderafdeeling pada tahun 1840. Sebelumnya di Singkil ada kerajaan-kerajaan kecil yang disebut “Raja Sinambelas” (Raja 16) dan berada dibawah kekuasaan Aceh. 

Sebelum itu daerah kerajaan-kerajaan tersebut tunduk pada Kerajaan Pagaruyung, yang kemudian diberikan kepada Aceh sebagai mas kawin. Salah satu kerajaan-kerajaan kecil tersebut adalah kerajaan Surau. Di bagian mengenai Kerajaan Surau pada halaman 35-37 buku ini dikisahkan bagaimana mulainya Kerajaan Surau dan juga mulainya marga Pinarik. Pada saat buku ini ditulis, Kerajaan Surau berada di bawah pimpinan Raja Gombok dari marga Pinarik dengan gelar Raja Setia Bakti, yang karena masih di bawah umur berada di bawah perwalian wakil Selatong, dengan nama Raja Sedap. Saat ini wilayah kerajaan Surau sepertinya adalah Kecamatan Suro Makmur, Kabupaten Aceh Singkil. Para pengapit (mentri) dari Raja Gombok kebanyakan bermarga Cibero dan Pinarik (halaman 36).

Berikut kisahnya di halaman 35-37, diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia dengan bantuan Google Translate dan DeepL: 

Surau (mushalla/masjid) didirikan oleh dua orang bersaudara dari Traju (Pak-pak) yang tergabung dalam marga Cibero, Haji Matondang dan Haji Mulia. Kedua orang tersebut menetap di hulu Laé Kinabé. merupakan cabang Sungai Sulampi yang termasuk dalam kawasan Marga Buluara. Pada saat itu, marga ini sangat terganggu oleh babi pemakan manusia, yang, seperti manusia, mengenakan bergot (rantai) di lehernya (babi merantei). Suatu hari, masyarakat marga Buluara mengetahui keberadaan kedua bersaudara tersebut melalui potongan bambu yang hanyut dari Sungai Kinabé. Kepala marga Buluara kemudian mengutus orang untuk mencari mereka. Haji Matondang dan Haji Mulia kemudian dibawa ke kepala marga Buluara, kemudian ia menjanjikan putri tunggalnya Boru Saléndang kepada salah satu dari mereka yang berhasil membunuh babi merantei. Haji Matondang dan Hadji Moelia kemudian membunuh hewan tersebut dan menyelamatkan rantai bersama-sama. Ketika ditanya oleh kepala Marga Buluara siapa di antara mereka yang akan menikahi putrinya, mereka sepakat bahwa Haji Matondang yang akan menikahinya dan kalung itu akan menjadi milik Haji Mulia (Angkat?).
--+++
Kisah Matondang memperlihatkan bahwa migrasi yang dilakukan nenek moyang bukanlah sekadar perpindahan fisik, melainkan juga penciptaan identitas baru. Nama Sitondang yang berubah menjadi Matondang adalah bukti bagaimana tradisi lisan dan simbol kultural mampu mengabadikan jejak leluhur.

Hingga kini, marga Matondang tetap lestari di Mandailing dan sekitarnya. Penyebarannya yang luas membuatnya dikenal di berbagai lapisan masyarakat. Ikatan kekerabatan dengan Batubara dan Daulay masih dipertahankan melalui adat, perkawinan, dan tradisi bersama.

Sejarawan lokal menilai bahwa kisah Matondang penting dicatat agar generasi muda memahami asal-usul mereka. Dengan demikian, identitas tidak hilang ditelan zaman, melainkan terus hidup sebagai bagian dari warisan budaya.

Asal usul marga ini juga memperlihatkan betapa kaya dan beragamnya sejarah Mandailing. Dari migrasi kecil yang dipimpin Parmato Sophia dan Datuk Piccur Ayo, lahirlah komunitas besar yang kemudian menyumbangkan tokoh-tokoh nasional.

Kisah Matondang, Batubara, dan Daulay adalah kisah tentang perpindahan, kekerabatan, dan kebesaran sebuah komunitas. Ia menjadi cermin bahwa identitas marga adalah bagian tak terpisahkan dari jati diri masyarakat Mandailing.

Dengan memahami asal-usul Matondang, generasi kini diingatkan kembali bahwa mereka adalah penerus dari sejarah panjang yang penuh dinamika. Tugas berikutnya adalah menjaga warisan itu tetap hidup, sambil terus memberi kontribusi bagi bangsa dan daerah.


https://www.facebook.com/share/p/17AEAFxY1B/

https://www.facebook.com/share/p/15eg3wGQtW/

Saatnya Suriah Percepat Rekonstruksi Fasilitas Publik

September 23, 2025
Dengan berlalunya perang panjang yang meluluhlantakkan negeri, Suriah kini menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali infrastruktur dan layanan dasar bagi rakyatnya. Ribuan sekolah, jalan, jaringan listrik, hingga masjid mengalami kerusakan berat. Dalam kondisi ini, berbagai kalangan menilai sudah saatnya Suriah menerapkan kembali konsep semi wajib militer, namun kali ini difokuskan bukan untuk peperangan, melainkan bagi rekonstruksi dan pembangunan.

Selama bertahun-tahun, wajib militer di Suriah identik dengan pertempuran dan garis depan. Namun gagasan baru ini ingin mengubah wajahnya menjadi sebuah “tentara pembangunan,” yaitu generasi muda yang dikerahkan secara sistematis untuk membantu perbaikan fasilitas umum. Dengan cara ini, negara dapat mengatasi keterbatasan tenaga kerja dan mempercepat rehabilitasi yang saat ini berjalan lamban.

Kementerian Pendidikan Suriah sendiri telah mengumumkan bahwa sebanyak 531 sekolah berhasil direhabilitasi menjelang tahun ajaran 2025–2026, sementara 676 lainnya masih dalam proses renovasi. Angka itu menunjukkan adanya upaya, namun jika dibandingkan dengan sekitar 27 ribu fasilitas pendidikan yang rusak, jelas langkah tersebut masih jauh dari cukup.

Tanpa dukungan tenaga tambahan, pembangunan akan tersendat. Apalagi jika mengandalkan kontraktor swasta atau bantuan terbatas dari organisasi kemanusiaan, prosesnya bisa memakan waktu puluhan tahun. Semi wajib militer rekonstruksi dapat menjadi solusi karena melibatkan rakyat sendiri dalam menyelamatkan masa depan negaranya.

Selain tenaga dalam negeri, Suriah juga dapat membuka diri bagi partisipasi negara-negara Arab maupun Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Negara-negara yang memiliki pengalaman menangani bencana dapat mengirimkan tim rekonstruksi secara sukarela. Dengan cara ini, beban keuangan Suriah yang masih rapuh tidak akan semakin berat.

Model kerja sama semacam ini dapat diatur melalui zonasi. Misalnya, sebuah kota ditangani oleh satu negara, sementara kota lain ditangani negara berbeda. Dengan demikian, setiap kawasan akan memiliki tanggung jawab yang jelas dan koordinasi akan lebih terarah.

Fokus awal rekonstruksi mestinya diarahkan pada fasilitas vital yang menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari. Masjid, jalan, jaringan air bersih, dan listrik menjadi prioritas utama. Kehadiran tentara pembangunan dan tim sukarela internasional akan mempercepat pulihnya layanan dasar tersebut.

Negara-negara yang enggan mengirimkan tim bisa berkontribusi melalui dana bantuan. Dana tersebut tetap akan digunakan untuk proyek-proyek rekonstruksi yang jelas, sehingga transparansi dapat dijaga. Dengan demikian, semua pihak bisa ikut serta sesuai kapasitas masing-masing.

Suriah sendiri tengah menjalani tahun ajaran baru. Namun di balik itu, ribuan anak-anak masih bersekolah di bangunan rusak atau bahkan di ruang darurat. Jika semi wajib militer pembangunan diterapkan, para pemuda Suriah dapat dilibatkan langsung dalam memperbaiki ruang belajar bagi adik-adik mereka.

Konsep ini juga bisa menumbuhkan semangat kebersamaan nasional. Pemuda yang sebelumnya terbiasa dengan perintah militer untuk berperang, kini diarahkan pada tugas mulia membangun kembali negerinya. Dari situ lahir rasa bangga baru: bukan karena kemenangan di medan tempur, melainkan kemenangan dalam rekonstruksi.

Sementara itu, peran negara sahabat sangat penting. Negara-negara Arab yang kaya pengalaman dalam pembangunan cepat pascabencana, seperti Mesir dan Turki, bisa membantu dengan mengirimkan tenaga ahli. Begitu juga negara-negara anggota OKI lainnya yang memiliki sumber daya teknis.

Koordinasi lintas negara ini dapat difasilitasi melalui forum internasional, di mana setiap negara menyatakan komitmennya untuk menangani satu wilayah tertentu. Dengan model itu, rekonstruksi tidak lagi bersifat parsial, tetapi terencana secara nasional.

Pemerintah Suriah tentu harus menyiapkan payung hukum yang jelas. Semi wajib militer pembangunan harus dilandasi aturan yang melindungi hak-hak peserta, termasuk lama pengabdian, jenis tugas, dan jaminan keselamatan kerja. Hal ini penting agar program tidak dipandang sebagai eksploitasi, melainkan sebagai pengabdian negara.

Selain itu, transparansi dalam penggunaan dana bantuan internasional akan menjadi kunci keberhasilan. Suriah perlu meyakinkan dunia bahwa setiap kontribusi, baik berupa tenaga maupun uang, benar-benar digunakan untuk rehabilitasi masyarakat, bukan dialihkan ke sektor lain.

Rakyat Suriah sendiri menunjukkan semangat luar biasa untuk bangkit. Banyak warga sudah bergotong royong memperbaiki rumah, sekolah, dan masjid mereka dengan peralatan seadanya. Jika kekuatan ini dilembagakan dalam semi wajib militer, hasilnya akan jauh lebih besar dan terorganisir.

Dari perspektif politik, program ini juga bisa memperbaiki citra Suriah di mata internasional. Dunia akan melihat negeri ini bukan lagi sekadar zona konflik, melainkan contoh negara yang bangkit dengan inovasi dan solidaritas.

Lebih jauh, tentara pembangunan juga bisa menjadi sarana pendidikan keterampilan bagi pemuda. Selama masa pengabdian, mereka akan belajar teknik konstruksi, manajemen proyek, hingga disiplin kerja. Ilmu tersebut akan berguna setelah mereka kembali ke kehidupan sipil.

Dengan jumlah sekolah yang rusak mencapai puluhan ribu, jelas Suriah membutuhkan strategi luar biasa. Semi wajib militer rekonstruksi, dipadu dengan solidaritas negara Arab dan OKI, bisa menjadi jalan keluar yang realistis.

Pada akhirnya, rekonstruksi Suriah bukan hanya soal membangun kembali gedung dan jalan. Lebih dari itu, ini adalah tentang mengembalikan harapan, menata ulang kehidupan, dan menciptakan generasi baru yang lebih kuat. Tentara pembangunan adalah simbol dari tekad itu.

Kini, pilihan ada di tangan Suriah. Apakah tetap berjalan lambat dengan tenaga terbatas, atau segera melompat maju dengan melibatkan seluruh rakyat dan sahabat internasional? Sejarah akan mencatat, bahwa dari reruntuhan, Suriah memilih bangkit bersama.

OKI Perlu Utusan Khusus untuk Suriah

Kembalinya Suriah ke dalam keanggotaan penuh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) setelah 13 tahun menjadi momentum penting bagi diplomasi kawasan. Keputusan yang diinisiasi Turki dalam Sidang Luar Biasa Dewan Menteri Luar Negeri OKI di Jeddah itu menandai babak baru hubungan dunia Islam dengan Damaskus. Setelah lama terpinggirkan, kini Suriah kembali duduk di meja perwakilan, diwakili langsung oleh Menteri Luar Negeri Assad Hassan Shaibani.

Sebelumnya, keanggotaan Suriah dibekukan pada Agustus 2012 dalam KTT Luar Biasa OKI di Mekah, menyusul rekomendasi eksekutif di Jeddah, ketika kekerasan rezim Bashar al-Assad terhadap rakyatnya meningkat. Langkah itu menjadi simbol penolakan dunia Islam terhadap kebijakan represif rezim Damaskus kala itu. Namun kini, dengan adanya pemerintahan baru pasca perang dan dimulainya fase rekonstruksi, keputusan OKI untuk mengaktifkan kembali keanggotaan Suriah dinilai tepat waktu.

Momentum ini mestinya tidak berhenti pada pemulihan kursi formal Suriah di OKI. Organisasi Islam terbesar di dunia ini perlu melangkah lebih jauh dengan menugaskan utusan khusus untuk membantu proses rekonstruksi Suriah. Hal serupa pernah dilakukan OKI untuk Afghanistan pasca pergantian kekuasaan di Kabul, ketika dunia khawatir dengan transisi pemerintahan yang tidak pasti.

Jika Afghanistan mendapatkan perhatian khusus, Suriah pun seharusnya demikian. Perang berkepanjangan telah menghancurkan infrastruktur vital, termasuk sekolah, rumah sakit, jaringan listrik, dan masjid. Rakyat Suriah saat ini membutuhkan dukungan nyata agar dapat kembali menjalani kehidupan normal. Sebuah utusan khusus OKI akan menjadi simbol sekaligus sarana nyata bagi komitmen solidaritas dunia Islam.

Selain simbolis, utusan khusus juga bisa berfungsi strategis. Ia dapat menjadi jembatan komunikasi antara Damaskus dan negara-negara anggota, memfasilitasi alokasi bantuan, serta mengoordinasikan proyek rekonstruksi agar tidak tumpang tindih. Dengan cakupan kerusakan yang begitu luas, diperlukan manajemen kolektif yang hanya bisa dijalankan melalui koordinasi multilateral.

Turki yang berperan besar dalam pemulihan keanggotaan Suriah di OKI bisa menjadi motor penggerak inisiatif ini. Sebagai negara yang aktif dalam isu kemanusiaan di Suriah, Ankara memiliki kredibilitas dan pengalaman. Namun, langkah ini tentu akan lebih kuat bila diadopsi secara kolektif oleh OKI, bukan hanya oleh satu negara.

Bagi Suriah, keberadaan utusan khusus akan mempercepat datangnya bantuan yang terorganisir. Negara-negara anggota yang tidak mampu mengirimkan tenaga bisa menyumbang dana, sementara yang memiliki kapasitas teknis bisa mengirimkan tim rekonstruksi. Koordinasi melalui OKI akan memastikan bahwa kontribusi setiap negara digunakan secara efektif sesuai zonasi dan kebutuhan lokal.

Di sisi lain, langkah ini juga akan mengangkat kembali relevansi OKI di mata dunia internasional. Selama ini, banyak pihak menilai OKI hanya aktif dalam pernyataan politik tanpa langkah nyata di lapangan. Dengan menunjuk utusan khusus untuk Suriah, OKI bisa membuktikan bahwa ia mampu memainkan peran penting dalam fase pascakonflik.

Warga Suriah sendiri menanti perhatian dunia Islam. Mereka ingin melihat solidaritas nyata, bukan hanya retorika. Kehadiran utusan khusus akan membawa pesan harapan bahwa dunia Islam tidak melupakan penderitaan mereka. Setelah Afghanistan, kini giliran Suriah yang pantas menjadi prioritas.

Jika OKI serius dengan misinya sebagai wadah solidaritas umat, maka penunjukan utusan khusus untuk Suriah adalah langkah yang tak bisa ditunda lagi. Kehancuran yang ditinggalkan perang tidak akan pulih hanya dengan kata-kata. Dibutuhkan koordinasi, kerja nyata, dan kehadiran langsung. Dari sinilah, kembalinya Suriah ke OKI bisa benar-benar berarti, bukan sekadar simbol politik.

Tiga Wajah Konstruksi Bangunan di Suriah

September 15, 2025

Pemandangan kota dan desa di Suriah hari ini menghadirkan kontras yang kuat. Di satu sisi, bangunan yang runtuh akibat konflik bertahun-tahun masih berdiri dengan tiang dan dinding yang setengah hancur, menanti untuk diperbaiki. Di sisi lain, ada gedung-gedung baru yang sedang dibangun dengan semangat rekonstruksi. Namun, tidak sedikit pula proyek lama yang terbengkalai, setengah jadi dan ditinggalkan tanpa kejelasan.

Ketiga bentuk bangunan ini kini menjadi wajah nyata kehidupan masyarakat Suriah. Yang pertama adalah bangunan rusak akibat perang. Banyak di antaranya masih bisa diperbaiki karena struktur utama masih berdiri. Pemukiman, sekolah, hingga masjid menjadi bagian dari deretan bangunan yang menunggu sentuhan rekonstruksi.

Yang kedua adalah bangunan yang sudah lama tidak selesai. Beberapa bahkan mangkrak jauh sebelum konflik pecah. Ada yang merupakan proyek pemerintah, ada juga yang dimiliki pihak swasta, terutama pengembang di bidang properti. Gedung-gedung itu kini menjadi simbol stagnasi yang memanjang.

Bentuk ketiga adalah bangunan baru yang muncul dari semangat bertahan. Lembaga swadaya masyarakat mendirikan asrama untuk anak yatim dan janda. Militer membangun barak baru di sejumlah wilayah. Sementara pengembang dan investor mulai membangun kompleks hunian serta fasilitas komersial, meski dengan tantangan berat.

Ketiga jenis bangunan ini bersaing dalam satu hal yang sama: kebutuhan bahan bangunan. Permintaan tinggi membuat harga bahan melonjak tajam, terutama untuk blok beton yang menjadi material utama.

Video yang beredar dari pedesaan Damaskus menggambarkan situasi ini dengan jelas. Seorang pekerja konstruksi mengeluhkan bahwa harga blok beton naik drastis. Dari sebelumnya 3.000 lira, kini menjadi 5.000 lira per blok. Lonjakan harga ini menjadi pukulan berat bagi masyarakat.

Dampaknya, banyak orang menunda pembangunan atau renovasi rumah mereka. Rumah yang semula bisa diperbaiki dengan biaya terbatas, kini harus ditunda. Bahkan, harga rumah yang sudah selesai juga ikut melambung, memaksa sebagian besar warga beralih menyewa.

Kenaikan harga tidak hanya dirasakan oleh pemilik rumah, tetapi juga pekerja bangunan. Jika sebelumnya mereka bisa bekerja penuh dalam sepekan, kini hanya mendapat tiga hari kerja. Artinya, pendapatan mereka berkurang hampir setengah.

Biaya produksi blok beton dan bahan bangunan lain ikut naik karena harga listrik, solar, serta bea cukai yang tinggi. Semua faktor itu saling menekan hingga industri konstruksi menjadi serba mahal.

Kondisi ini menimbulkan efek domino. Saat pembangunan terhenti, pekerjaan lanjutan seperti plester, pemasangan ubin, cat, instalasi listrik, dan sanitasi juga ikut berhenti. Diperkirakan hingga 80 persen pekerjaan di sektor turunan ikut lumpuh.

Meski begitu, sisi positif tetap terlihat. Permintaan bahan bangunan yang tinggi membuka lapangan kerja baru bagi warga pedesaan. Banyak yang kini beralih membuat batu bata dan blok beton secara manual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Di desa-desa sekitar Damaskus, suara cetakan blok beton bergema sepanjang hari. Para pekerja kecil itu berupaya mengisi celah yang ditinggalkan oleh pabrik besar yang kesulitan memenuhi pasokan.

Namun, tetap saja kapasitas mereka tidak sebanding dengan tingginya permintaan. Harga tetap tinggi, sementara daya beli masyarakat semakin tertekan.

Kondisi ini juga memunculkan kesenjangan sosial. Mereka yang punya akses dana besar bisa melanjutkan pembangunan, sementara rakyat kecil harus rela hidup di bangunan setengah jadi atau rumah sewaan.

Di beberapa wilayah, proyek LSM menjadi penopang utama. Gedung-gedung baru untuk yatim piatu dan janda menjadi harapan segar, meski jumlahnya terbatas.

Investor swasta juga mulai masuk dengan proyek hunian, tetapi harga yang ditawarkan seringkali tidak terjangkau bagi kebanyakan warga.

Bangunan militer, sebaliknya, justru berkembang pesat. Barak baru dan fasilitas pertahanan menjadi prioritas, sekaligus menegaskan peran militer dalam peta konstruksi Suriah pascaperang.

Situasi ini mencerminkan dilema besar. Suriah membutuhkan pembangunan untuk pulih, tetapi biaya yang tinggi membuat prosesnya berjalan lambat.

Wajah tiga bentuk bangunan—hancur, mangkrak, dan baru—menjadi simbol perjalanan panjang negeri itu. Ia menggambarkan luka, ketidakpastian, sekaligus secercah harapan yang terus dipertahankan.

Masyarakat Suriah kini berdiri di tengah pusaran, mencoba membangun kembali kehidupannya di antara puing, gedung tak selesai, dan konstruksi baru yang terus bermunculan.

 
Copyright © Berita Borbor. Designed by OddThemes